PALEMBANG, TRIKPOS.com — Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan menegaskan perannya sebagai penyangga utama pasokan pangan di wilayah Sumatera, seiring meningkatnya tantangan cuaca ekstrem dan lonjakan kebutuhan menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN).
Komitmen tersebut disampaikan Sekretaris Daerah Provinsi Sumsel Edward Candra saat menghadiri Rapat Koordinasi Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah (TPIP–TPID) Wilayah Sumatera 2026 yang digelar di Hotel Arista, Rabu (11/2/2026).
Dalam forum strategis tersebut, Sumsel memaparkan capaian signifikan sektor pertanian sepanjang 2025. Produksi padi Sumsel tercatat mencapai 3.586.332 ton, tumbuh 23,69 persen secara tahunan (year on year/yoy). Capaian ini menempatkan Sumsel sebagai produsen beras terbesar di Sumatera dan peringkat ketiga nasional dalam peningkatan produksi padi.
“Data ini memperkuat posisi Sumsel sebagai lumbung pangan regional. Kami siap menopang kebutuhan daerah lain di Sumatera, khususnya wilayah yang terdampak bencana maupun gangguan distribusi,” ujar Edward.
Memasuki 2026, Pemprov Sumsel mengandalkan program cetak sawah sebagai motor peningkatan produksi sekaligus memperluas kerja sama antar daerah (KAD) untuk menjamin distribusi beras tetap lancar dan merata.
Di sisi pengendalian inflasi, terutama menjelang Idulfitri, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Sumsel memperkuat intervensi melalui pasar murah. Langkah ini difokuskan pada komoditas pangan strategis yang rentan bergejolak, seperti cabai, bawang, telur, dan daging ayam.
Intervensi dilakukan melalui kolaborasi bersama BUMD pangan, Bulog, serta jaringan Rumah Pangan Kita (RPK) guna memastikan harga tetap terjangkau bagi masyarakat.
Selain itu, Pemprov Sumsel juga menyiapkan langkah antisipatif terhadap dampak Program Makan Bergizi Gratis (MBG) agar tidak menimbulkan tekanan baru pada pasokan pangan. Sinkronisasi dilakukan dengan Gerakan Sumsel Mandiri Pangan (GSMP), termasuk rencana melibatkan pesantren sebagai bagian dari ekosistem produksi bahan pangan.
“Kami mendorong dapur MBG di pesantren didukung permodalan BUMN dan BUMD, sehingga kebutuhan bahan baku seperti telur dan pangan lainnya dapat dipenuhi secara mandiri tanpa mengganggu pasar,” kata Edward.
Rapat koordinasi TPIP–TPID Wilayah Sumatera ini diharapkan menghasilkan rekomendasi konkret dalam menghadapi risiko iklim global, menjaga stabilitas harga, serta memperkuat ketahanan pangan nasional berbasis daerah.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Bambang Pramono, Ferry Irawan, Restuardy Daud, serta Arief Hartawan. (#)













