JAKARTA, TRIKPOS.com– Token listrik prabayar kerap disamakan dengan pulsa seluler. Padahal, mekanisme keduanya berbeda. Jika pulsa seluler berupa saldo rupiah yang digunakan untuk layanan komunikasi, token listrik prabayar merupakan pembelian energi listrik yang dihitung dalam satuan kilowatt hour (kWh).
Pada sistem listrik prabayar, pelanggan membeli energi listrik di awal. Energi tersebut kemudian tersimpan di meteran dan akan berkurang seiring pemakaian listrik oleh seluruh peralatan rumah tangga.
Executive Vice President Komunikasi Korporat dan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PT PLN (Persero), Gregorius Adi Trianto, menjelaskan bahwa sistem prabayar dirancang agar pelanggan dapat mengetahui sekaligus mengendalikan konsumsi listriknya.
“Pada sistem prabayar, pelanggan membeli alokasi energi listrik dalam jumlah tertentu. Alokasi ini digunakan oleh seluruh peralatan listrik di rumah dan akan terus berkurang sesuai pemakaian. Karena itu, energi yang tersedia dihitung dalam satuan kilowatt hour (kWh),” ujar Gregorius, Selasa (27/1/2026).
Ia menegaskan, penggunaan listrik tidak dapat dipisahkan berdasarkan alat atau fungsi tertentu. Seluruh peralatan rumah tangga mengambil daya dari sumber listrik yang sama, sehingga pengurangan kWh dihitung dari total konsumsi energi.
Dalam setiap pembelian token listrik prabayar, terdapat sejumlah komponen yang dipotong di awal. Di antaranya Pajak Penerangan Jalan (PPJ) yang besarannya ditetapkan pemerintah daerah serta biaya administrasi sesuai kanal pembelian. Untuk transaksi di atas Rp5.000.000, juga dikenakan bea materai sesuai ketentuan yang berlaku.
Sebagai ilustrasi, pelanggan rumah tangga dengan daya 1.300 volt ampere (VA) yang membeli token listrik senilai Rp100.000 akan menerima nilai energi setelah dikurangi PPJ dan biaya administrasi. Nilai yang dikonversi menjadi energi listrik umumnya berada di kisaran Rp90.000 hingga Rp94.000.
Dengan tarif listrik rumah tangga daya 1.300 VA sebesar Rp1.444,70 per kWh, nominal tersebut setara dengan sekitar 63 hingga 65 kWh. Jumlah inilah yang masuk ke meteran dan akan berkurang sesuai pemakaian listrik sehari-hari.
Gregorius menambahkan, sistem token listrik prabayar memberikan kendali langsung kepada pelanggan dalam mengatur konsumsi energi.
“Token listrik prabayar adalah pembelian energi, bukan sekadar nominal rupiah. Seluruh perhitungannya transparan dan tercatat di sistem. Sederhananya, token listrik adalah alokasi energi yang akan terus berkurang saat listrik digunakan,” jelasnya.
Dengan memahami cara kerja token listrik prabayar, pelanggan diharapkan dapat lebih memahami perbedaan antara nominal pembelian dan jumlah kWh yang diterima, sekaligus merencanakan penggunaan listrik secara lebih bijak sesuai kebutuhan. (#)












