OKI  

OKI Jadi Titik Rawan Karhutla Sumsel, Data 7 Tahun Catat 194 Ribu Hektare Terbakar

Foto : ilustrasi

PALEMBANG, TRIKPOS.com – Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) tercatat sebagai wilayah paling rawan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan dalam tujuh tahun terakhir. Luasan karhutla di OKI mencapai lebih dari 194 ribu hektare, atau lebih dari separuh total karhutla di provinsi tersebut.

Data tersebut dihimpun Balai Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Dalkarhut) Sumatera berdasarkan Sistem Informasi Pemantauan Kebakaran Hutan dan Lahan (SiPongi) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan periode Januari 2019 hingga Desember 2025.

Secara kumulatif, luas karhutla di Sumatera Selatan dalam periode tersebut tercatat mencapai 336.798,1 hektare. Dari jumlah itu, OKI menjadi penyumbang terbesar dengan luasan 194.824,5 hektare.

Kepala Balai Dalkarhut Wilayah Sumatera, Ferdian Krisnanto, menjelaskan tingginya angka karhutla di OKI tidak terlepas dari karakteristik wilayah yang didominasi lahan gambut serta pengaruh cuaca kering ekstrem pada tahun-tahun tertentu.

“Karakteristik lahan gambut yang luas, ditambah faktor cuaca kering ekstrem, menjadikan OKI sebagai wilayah dengan tingkat kerawanan karhutla paling tinggi,” kata Ferdian dalam keterangannya, Minggu (25/1/2025).

Selain OKI, sejumlah daerah lain di Sumatera Selatan juga mencatat luasan karhutla cukup signifikan. Kabupaten Banyuasin tercatat mengalami karhutla seluas 63.091,3 hektare, disusul Musi Banyuasin 27.704,9 hektare, serta Musi Rawas Utara 15.911,6 hektare.

Ferdian menambahkan, berdasarkan jenis lahannya, kebakaran di lahan gambut masih mendominasi, terutama di wilayah pesisir timur Sumatera Selatan. Kondisi ini menjadi perhatian serius karena kebakaran gambut cenderung sulit dipadamkan dan berpotensi menimbulkan asap berkepanjangan yang berdampak lintas daerah.

“Lahan gambut memiliki karakter kebakaran bawah permukaan yang sulit dideteksi dan dipadamkan, sehingga risikonya jauh lebih besar,” ujarnya.

Untuk menekan potensi karhutla, Balai Dalkarhut Sumatera terus memperkuat upaya pencegahan melalui patroli terpadu, sosialisasi kepada masyarakat, serta peningkatan koordinasi dengan pemerintah daerah dan aparat penegak hukum.

Menjelang musim kemarau, Ferdian juga mendorong pemerintah daerah meningkatkan kesiapsiagaan agar lonjakan karhutla tidak kembali terjadi seperti pada tahun-tahun sebelumnya.

“Pengendalian karhutla tidak bisa dilakukan sendiri. Dibutuhkan peran aktif semua pihak, termasuk masyarakat, untuk menjaga ekosistem hutan dan lahan tetap lestari,” pungkasnya. (#)