Mobil Tua dan Seragam Pejuang Hidupkan Lagi Semangat Lima Hari Lima Malam di Palembang

PALEMBANG , TRIKPOS.com — Deru mesin mobil-mobil tua menggema di sejumlah ruas jalan protokol Kota Palembang, Sabtu (3/1/2026) pagi. Asap tipis dari knalpot kendaraan klasik itu seakan membawa warga menembus lorong waktu, kembali ke masa perjuangan mempertahankan kemerdekaan.

Pemerintah Kota Palembang menggelar peringatan Pertempuran Lima Hari Lima Malam dengan konsep parade sejarah. Kota tertua di Indonesia ini sejenak berubah wajah, menghadirkan atmosfer era 1940-an saat semangat perlawanan rakyat Palembang berkobar melawan penjajahan Belanda.

Pusat kegiatan berlangsung di pelataran Lawang Borotan, lokasi strategis yang menjadi saksi pertempuran sengit kala itu. Kawasan tersebut disulap menjadi panggung sejarah hidup. Mobil-mobil tua seperti Willys dan Jeep Ford GPW beriringan melintasi jalan, disusul sepeda ontel yang dikayuh pemuda-pemudi mengenakan seragam pejuang lengkap dengan ikat kepala merah putih dan bendera.

Wali Kota Palembang Ratu Dewa turut larut dalam suasana. Mengenakan seragam pejuang lengkap, ia menaiki salah satu kendaraan klasik dan menyusuri jalan protokol bersama peserta parade.

“Lima Hari Lima Malam bukan sekadar seremoni. Ini pengingat bahwa kemerdekaan dibayar mahal. Tugas kita hari ini adalah menjaga dan mengisinya dengan karya,” tegas Ratu Dewa.

Menurutnya, peringatan ini menjadi jembatan antara masa lalu dan masa depan, sekaligus pengikat antara pengorbanan para pejuang dengan semangat generasi penerus.
“Di tengah hiruk pikuk zaman digital, Palembang membuktikan semangat kemerdekaan tetap hidup dan berdenyut,” ujarnya.

Selain parade kendaraan dan kostum, peringatan juga diisi pertunjukan teatrikal perjuangan yang mengundang emosi penonton dan menggambarkan kerasnya perlawanan rakyat Palembang pada masa itu.

Di lokasi yang sama, Kepala Dinas Kebudayaan Kota Palembang, Sulaiman Amin, mengatakan peringatan ini juga dimanfaatkan untuk mengangkat potensi wisata sejarah.

“Masih banyak jejak perjuangan yang belum dikenal luas. Kami akan lebih gencar melakukan sosialisasi agar situs-situs bersejarah bisa menjadi destinasi wisata edukatif,” katanya.

Ia menegaskan, peringatan Lima Hari Lima Malam bukan hanya soal mengenang masa lalu, tetapi juga menumbuhkan kembali rasa bangga terhadap sejarah dan identitas Kota Palembang.