Kejar Layanan Air Bersih 100 Persen, Tirta Musi Butuh Suntikan Investasi Hampir Rp1 Triliun

Foto : Direktur Operasional Perumda Tirta Musi H. Rahmat ST menjelaskan rencana pengembangan jaringan perpipaan dan target pelayanan air bersih 100 persen di Kota Palembang saat memberikan keterangan kepada wartawan di Kantor Perumda Tirta Musi, Kamis (2/7/2026).

PALEMBANG , TRIKPOS.com – Ambisi Perumda Tirta Musi menghadirkan layanan air bersih untuk seluruh warga Kota Palembang pada 2031 masih menghadapi tantangan besar. Bukan karena kekurangan sumber air, melainkan mahalnya biaya pembangunan jaringan perpipaan yang diperkirakan menembus hampir Rp1 triliun.

Direktur Operasional Perumda Tirta Musi, H. Rahmat ST, mengungkapkan, investasi jumbo tersebut menjadi kunci untuk memperluas jaringan distribusi ke kawasan yang hingga kini belum sepenuhnya menikmati layanan air bersih perpipaan.

“Yang menjadi kendala bukan air bakunya, tetapi pembangunan jaringan. Untuk menyelesaikan seluruh kebutuhan pipa transmisi dan distribusi dibutuhkan investasi hampir Rp1 triliun,” ujar Rahmat saat ditemui di Kantor Perumda Tirta Musi Palembang, Kamis (2/7/2026).

Menurutnya, saat ini pelayanan Perumda Tirta Musi baru menjangkau sekitar 86 persen masyarakat. Jika digabung dengan layanan penyedia air bersih lainnya, seperti TSM dan PT Pusri, maka cakupan pelayanan air bersih di Kota Palembang telah mencapai sekitar 91 persen.

Meski demikian, masih ada sejumlah wilayah yang menjadi pekerjaan rumah, di antaranya sebagian Kecamatan Gandus, Kalidoni, Sematang Borang, Sako hingga kawasan Jalan Karya Jaya, Kecamatan Kertapati.

Untuk mengejar target tersebut, Perumda Tirta Musi terus memperluas jaringan utama. Salah satunya dengan menyelesaikan pemasangan pipa transmisi berdiameter 800 milimeter hingga Simpang Bandara. Tahap berikutnya akan dilanjutkan menuju Sematang Borang setelah seluruh proses perizinan selesai karena jalur pipa melintasi berbagai fasilitas umum, mulai dari jalan nasional, flyover hingga lintasan LRT.

Proyek tersebut diproyeksikan mampu melayani sekitar 10 ribu calon pelanggan yang selama ini masih masuk daftar tunggu. Secara keseluruhan, Tirta Musi menargetkan penambahan sekitar 15 ribu hingga 16 ribu sambungan pelanggan baru sepanjang 2026.

Rahmat juga menanggapi keluhan masyarakat mengenai air keruh yang belakangan muncul di sejumlah wilayah. Ia memastikan kualitas air yang keluar dari instalasi pengolahan telah memenuhi standar, sementara perubahan warna terjadi akibat proses peningkatan tekanan distribusi pada jaringan pipa lama.

Saat tekanan air dinaikkan, endapan yang selama bertahun-tahun menempel di dalam pipa ikut terbawa aliran sehingga air tampak keruh saat pertama kali mengalir ke rumah pelanggan.

Ia mengakui sebagian jaringan distribusi Tirta Musi masih menggunakan pipa berusia puluhan tahun. Karena itu, penggantian dilakukan secara bertahap menyesuaikan kemampuan investasi perusahaan.

“Kami memohon maaf atas ketidaknyamanan yang dirasakan pelanggan. Seluruh pekerjaan ini dilakukan agar kualitas pelayanan ke depan semakin baik,” katanya.

Untuk mempercepat penanganan gangguan, Perumda Tirta Musi mengoperasikan empat posko siaga yang bekerja selama 24 jam menerima laporan kebocoran pipa. Sebagian besar kerusakan dapat segera ditangani, kecuali kebocoran pada pipa transmisi berukuran besar yang membutuhkan waktu perbaikan lebih lama.

Rahmat menambahkan koordinasi dengan Pemerintah Kota Palembang, Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan hingga Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional terus dilakukan agar pembangunan jaringan maupun perbaikan infrastruktur dapat berlangsung lebih cepat.

Selain memperluas jaringan, Tirta Musi juga menyiapkan pembangunan Instalasi Pengolahan Air (IPA) baru berkapasitas 500 liter per detik di kawasan Gandus pada 2028–2029.

Proyek strategis tersebut menjadi bagian penting dalam roadmap perusahaan untuk memastikan target layanan air bersih 100 persen bagi masyarakat Kota Palembang dapat tercapai pada 2031.

Rahmat memastikan ketersediaan air baku di Palembang hingga kini masih mencukupi. Tantangan terbesar justru muncul saat pergantian musim yang memengaruhi karakteristik air sungai sehingga membutuhkan penyesuaian proses pengolahan agar kualitas air yang didistribusikan tetap sesuai standar.