Menko Polkam ke Palembang, Strategi Penanganan Karhutla Jadi Perhatian

PALEMBANG, TRIKPOS.com – Kondisi kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) serta dampak asap menjadi perhatian serius dalam kunjungan kerja Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam) Jenderal TNI (Purn.) Djamari Chaniago ke Sumatera Selatan, Jumat (18/9/2026).

Dalam kunjungan tersebut, Menko Polkam bersama Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni, Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru, dan Wali Kota Palembang Ratu Dewa meninjau Posko Karhutla di Kantor Kecamatan Kertapati, Jalan Sriwijaya Raya KM 14, Palembang.

Peninjauan menjadi bagian dari penguatan koordinasi lintas sektor menghadapi potensi kebakaran baru, kekeringan, serta dampak pencemaran udara yang dirasakan masyarakat.

Wali Kota Palembang Ratu Dewa memaparkan kondisi terkini Karhutla di wilayahnya. Hingga 17 September 2026, tercatat 406 kejadian kebakaran lahan dengan luas area terdampak sekitar 254,23 hektare.

Kecamatan Kertapati menjadi salah satu wilayah dengan kejadian tertinggi, yakni 64 kejadian. Berikutnya Gandus 60 kejadian, Alang-Alang Lebar 56 kejadian, Ilir Barat I 50 kejadian, dan Sukarami 49 kejadian.

Sejumlah lokasi bahkan tercatat mengalami kebakaran secara berulang. Jalan Tanjung Barangan di Kecamatan Ilir Barat I mengalami 14 kejadian, Jalan Talang Kepuh Kecamatan Gandus 12 kejadian, sedangkan Jalan Mayjend Satibi Darwis tercatat tujuh kali kejadian.

ISPU Tembus 302, Kasus ISPA Ikut Meningkat

Dampak Karhutla terhadap kualitas udara menjadi perhatian karena berdasarkan data pemantauan 17–18 September 2026, nilai Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) Palembang dalam periode tertentu berada di atas 300 atau masuk kategori berbahaya.

Pada Jumat (18/9/2026) pukul 04.00 WIB, nilai ISPU Kota Palembang tercatat 302.

Kondisi tersebut juga diikuti peningkatan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Hingga 17 September, tercatat 752 kasus ISPA, meningkat 46 kasus dibandingkan sehari sebelumnya yang mencapai 706 kasus.

Kasus ISPA tertinggi tercatat di Kecamatan Sukarami dengan 91 kasus. Berdasarkan kelompok usia, kasus terbanyak berada pada rentang 19–59 tahun dengan 320 kasus.

Mengantisipasi dampak asap terhadap kesehatan, Pemerintah Kota Palembang telah menyiapkan 61 posko kesehatan yang tersebar di 42 puskesmas. Distribusi masker melalui puskesmas juga telah mencapai 55.400 buah.

Pemerintah Perkuat Kesiapsiagaan

Menko Polkam Djamari Chaniago menekankan pentingnya penanganan Karhutla berdasarkan pemetaan wilayah rawan. Personel dan peralatan, menurutnya, perlu dipusatkan pada lokasi yang memiliki potensi kebakaran tinggi sehingga respons dapat dilakukan secara efektif.

Selain pemadaman, pencegahan juga menjadi bagian penting. Pengawasan kawasan rawan dan penertiban aktivitas pembakaran yang melanggar aturan perlu terus diperkuat.

Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menyebut Sumatera Selatan termasuk wilayah dengan titik panas yang masih tinggi bersama sejumlah provinsi lain, seperti Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Riau, dan Jambi.

Meski tren titik panas di Sumatera Selatan menunjukkan penurunan, kewaspadaan tetap diperlukan karena titik panas yang ada berpotensi berkembang menjadi kebakaran lahan.

Penanganan dilakukan melalui kekuatan darat, operasi water bombing, pemetaan titik panas, serta patroli untuk mengantisipasi munculnya titik api baru.

Kekeringan Persempit Ketersediaan Sumber Air

Selain Karhutla dan asap, Palembang juga menghadapi dampak kekeringan. Kekurangan air untuk kebutuhan rumah tangga tercatat terjadi di Kelurahan Sukajaya, Kecamatan Sukarami, yang berdampak terhadap 720 kepala keluarga.

Kondisi serupa terjadi di Kelurahan Karya Mulya, Kecamatan Sematang Borang, yang berdampak pada 58 kepala keluarga, serta Kelurahan Silaberanti, Kecamatan Jakabaring, sebanyak empat kepala keluarga.

Kekeringan juga berdampak pada lahan pertanian. Kelurahan Pulokerto, Kecamatan Gandus, tercatat mengalami kekeringan pada lahan dan sawah seluas sekitar 407 hektare.

Meski demikian, ketersediaan air bersih secara umum masih aman. Perumda Tirta Musi tidak mengalami penurunan produksi maupun distribusi air bersih.

Pada periode Mei–Agustus 2026, ketersediaan air baku bahkan meningkat 6,3 persen, produksi air bersih naik 5 persen, dan distribusi meningkat 5,1 persen.

Perumda Tirta Musi juga menyiapkan mobil tangki untuk membantu wilayah terdampak serta fasilitas pengisian air bagi mobil tangki dari berbagai instansi yang terlibat dalam penanganan kebakaran.

Pendidikan dan Pengawasan Lingkungan Diperkuat

Pemerintah Kota Palembang turut menerbitkan Surat Edaran Nomor 63 Tahun 2026 terkait penyelenggaraan layanan pendidikan di tengah kondisi terdampak asap Karhutla.

Pembelajaran dapat dilakukan secara daring, luring, maupun kombinasi dengan mempertimbangkan nilai ISPU. Ketika nilai ISPU berada di atas 200, pembelajaran tatap muka dihentikan dan dialihkan menjadi pembelajaran jarak jauh.

Kesiapsiagaan juga diperkuat melalui program Jaga Kampung yang melibatkan 1.605 personel Satlinmas. Pemkot juga mengoperasikan posko siaga lapangan di 18 kecamatan dan melakukan patroli di delapan kecamatan yang dinilai rawan serta lokasi dengan riwayat kebakaran berulang.

Untuk respons pemadaman, Palembang memiliki 10 posko pemadam kebakaran dengan total 232 personel.

Masyarakat dapat melaporkan kejadian darurat melalui layanan 112 maupun Call Center BPBD Kota Palembang di nomor 0821 6447 3403.

Di tengah kondisi lahan yang kering, keterbatasan sumber air, akses menuju lokasi kebakaran, serta kemungkinan terjadinya kebakaran secara bersamaan, respons cepat dan koordinasi lintas sektor menjadi bagian penting dalam pengendalian Karhutla.

Kunjungan Menko Polkam bersama jajaran pemerintah pusat dan daerah menjadi momentum untuk memperkuat pemetaan wilayah rawan, kesiapsiagaan personel, pengendalian kualitas udara, pelayanan kesehatan, serta perlindungan masyarakat dari dampak Karhutla dan kekeringan.

Laporan : redaksi