JAMBI, TRIKPOS.com — Kesempatan perempuan penyandang disabilitas untuk mengembangkan keterampilan dan membangun kemandirian ekonomi terus diperluas. Di Kota Jambi, sebanyak 25 perempuan disabilitas mendapat pelatihan menganyam dan menjahit melalui Program Srikandi Movement 2026 bertajuk “Woman Support Woman”.
Program yang digelar Srikandi PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi Sumatera Selatan, Jambi, dan Bengkulu (UID S2JB) tersebut berlangsung di PLN UP3 Jambi pada 24 September 2026.
Sebanyak 15 peserta mengikuti pelatihan menganyam, sedangkan 10 peserta lainnya mengikuti pelatihan menjahit. Kegiatan tidak hanya diarahkan pada penguasaan keterampilan, tetapi juga diharapkan membuka peluang bagi peserta untuk menghasilkan produk yang memiliki nilai ekonomi.
General Manager PLN UID S2JB, Diksi Erfani Umar, mengatakan pemberdayaan masyarakat perlu dilakukan secara inklusif dengan memberikan kesempatan yang sama untuk mengembangkan potensi.
“Setiap orang berhak memiliki kesempatan untuk berkarya dan berkembang. Melalui Woman Support Woman, kami ingin membuka ruang agar perempuan penyandang disabilitas memperoleh keterampilan yang bisa menjadi bekal untuk lebih percaya diri, produktif, dan secara bertahap membangun kemandirian ekonomi,” ujar Diksi.
Menurut dia, keberlanjutan menjadi bagian penting dalam program tersebut. Karena itu, dukungan PLN tidak berhenti pada pelaksanaan pelatihan.
Srikandi PLN UID S2JB turut menyerahkan mesin jahit yang selanjutnya menjadi aset Yayasan Serampai Karya Lestari. Sarana tersebut diharapkan dapat digunakan untuk pelatihan lanjutan sekaligus mendukung proses produksi kerajinan.
“Pemberdayaan akan lebih berarti ketika manfaatnya terus bergerak setelah kegiatan selesai. Kami berharap keterampilan dan sarana yang diberikan dapat menjadi awal lahirnya lebih banyak karya, membuka peluang usaha, dan membentuk ekosistem yang saling menguatkan,” kata Diksi.
Manager PLN UP3 Jambi, Burhanuddin Muflihul Hasan, mengatakan keterampilan praktis dapat menjadi salah satu pintu untuk memperluas akses ekonomi bagi perempuan penyandang disabilitas.
“Harapan kami, pelatihan ini tidak berhenti sebagai kegiatan satu hari. Keterampilan yang diperoleh dapat terus diasah, dikembangkan menjadi produk, dan pada waktunya menjadi peluang usaha yang memberikan nilai tambah bagi para peserta,” ujarnya.
Ketua Srikandi Gugus Tugas UID S2JB yang diwakili Yanet Rustam menambahkan, konsep Woman Support Woman membawa semangat agar perempuan saling memberikan ruang, berbagi pengetahuan, dan berkembang bersama.
“Woman Support Woman bukan hanya tema. Ini adalah semangat untuk saling menguatkan dan membuka kesempatan. Kami berharap para peserta semakin percaya diri untuk menghasilkan karya dan melihat keterampilan yang dimiliki sebagai sebuah peluang,” kata Yanet.
Dukungan terhadap program tersebut juga disampaikan Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan Kota Jambi, Dra. Hj. Noverintiwi Dewanti, yang hadir mewakili Ketua Dekranasda Kota Jambi.
Ia menilai kolaborasi antara dunia usaha, pemerintah, komunitas, dan lembaga sosial dibutuhkan agar pemberdayaan perempuan disabilitas tidak berhenti pada akses pelatihan.
“Kami mengapresiasi kegiatan PLN yang memberikan ruang bagi perempuan penyandang disabilitas untuk belajar dan berkembang. Yang penting adalah bagaimana keterampilan tersebut dapat terus diasah sehingga nantinya memiliki nilai ekonomi,” ungkap Noverintiwi.
Dalam pelatihan menganyam, peserta mempelajari teknik dasar menganyam resam, membuat wadah sederhana hingga menyelesaikan produk. Sementara peserta pelatihan menjahit belajar membuat bagian dalam tas anyaman, memasang ornamen dan furing, hingga tahap akhir produk.
Ketua Yayasan Serampai Karya Lestari, Irma, mengatakan bantuan mesin jahit akan memperkuat pembinaan peserta setelah pelatihan.
“Bantuan ini sangat berarti karena tidak hanya memberikan keterampilan, tetapi juga kesempatan untuk terus berkarya. Kami akan memanfaatkan mesin jahit yang diberikan secara optimal untuk pelatihan lanjutan sekaligus pengembangan produksi para pengrajin,” ujarnya.
Salah satu peserta, Dewi, mengaku senang memperoleh pengalaman dan keterampilan baru melalui kegiatan tersebut.
“Saya senang bisa ikut kegiatan ini karena kami mendapat ilmu baru dan belajar membuat kerajinan bersama. Semoga keterampilan yang kami dapatkan bisa terus dikembangkan dan bermanfaat ke depannya,” katanya.
PLN UID S2JB melalui Rumah BUMN Jambi juga merencanakan pelatihan lanjutan bagi peserta disabilitas dengan menggandeng komunitas HWDI dan Gerkatin.
Pendampingan tersebut diarahkan pada pengembangan beragam produk, mulai dari tas, home decor, hingga aksesori seperti cincin dan gelang.
Langkah lanjutan ini diharapkan membuat keterampilan yang telah diperoleh peserta tidak berhenti sebagai pengalaman pelatihan, tetapi berkembang menjadi aktivitas produktif yang dapat dilakukan secara berkelanjutan.
Program Woman Support Woman juga dikaitkan dengan dukungan terhadap sejumlah tujuan pembangunan berkelanjutan atau SDGs, yakni SDG 5 tentang Kesetaraan Gender, SDG 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, SDG 10 tentang Berkurangnya Kesenjangan, serta SDG 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.
Melalui semangat “Berkarya Bersama, Tumbuh Bersama”, Srikandi PLN UID S2JB mendorong terbukanya ruang yang lebih luas bagi perempuan penyandang disabilitas untuk mengembangkan keterampilan, menghasilkan karya, dan membangun kemandirian secara bertahap. (#)













