Ratu Dewa Ajak Warga Hentikan Kebiasaan Buang Sampah ke Sungai Musi

PALEMBANG, TRIKPOS.com | Persoalan sampah di Kota Palembang masih menjadi pekerjaan besar. Timbulan sampah yang mencapai sekitar 1.260 ton setiap hari menjadi perhatian Pemerintah Kota Palembang, terutama terkait dampaknya terhadap kebersihan lingkungan dan Sungai Musi.

Wali Kota Palembang H Ratu Dewa M.Si menegaskan, penanganan persoalan tersebut tidak cukup hanya mengandalkan pemerintah. Perubahan perilaku masyarakat, khususnya menghentikan kebiasaan membuang sampah ke sungai, menjadi bagian penting dalam menjaga kebersihan kota.

Pesan itu disampaikan Ratu Dewa saat memimpin langsung aksi bersih-bersih Sungai Musi di kawasan 7 Ulu, sekitar Jembatan Ampera, Sabtu (12/9/2026).

Kegiatan yang merupakan bagian dari Gerakan Menjaga Sungai Palembang dan Clean Up Sungai Musi tersebut melibatkan sekitar 700 peserta dari berbagai unsur, mulai dari relawan, komunitas, mahasiswa, pemuda, masyarakat hingga pemerintah.

Ratu Dewa bersama para peserta turun langsung menyusuri kawasan bantaran Sungai Musi untuk mengangkat dan mengumpulkan sampah yang mencemari lingkungan.

Menurut Ratu Dewa, Sungai Musi bukan sekadar aliran air, tetapi memiliki nilai ekologis, sejarah sekaligus menjadi bagian dari identitas masyarakat Palembang.

Karena itu, menurutnya, menjaga Sungai Musi harus menjadi tanggung jawab bersama.

“PSEL bukan berarti kita boleh terus menghasilkan sampah. Pengurangan dan pemilahan sampah tetap harus dimulai dari rumah, lingkungan dan masyarakat,” tegasnya.

Ratu Dewa menyebut Pemkot Palembang terus memperkuat sistem pengelolaan sampah, salah satunya melalui program Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) di Keramasan yang memiliki kapasitas pengolahan hingga 1.000 ton sampah per hari.

Namun, keberadaan fasilitas pengolahan tersebut tidak boleh membuat masyarakat mengabaikan upaya mengurangi sampah sejak dari sumbernya.

Ia mengajak masyarakat mulai melakukan langkah sederhana dari rumah, seperti mengurangi penggunaan plastik, memilah sampah dan tidak membuang sampah sembarangan.

“Jangan buang sampah sembarangan. Mari kita peduli lingkungan dan menjadikannya sebagai budaya. Mulai dari diri sendiri, keluarga, kemudian mengajak masyarakat,” ajaknya.

Koordinator Daerah ICCN Sumatera Selatan Muhammad Hafidz Alfuqan mengatakan, aksi bersih Sungai Musi tidak seharusnya berhenti sebagai kegiatan seremonial.

Menurutnya, gerakan tersebut harus dilakukan secara berkelanjutan agar kesadaran masyarakat terhadap kebersihan sungai semakin kuat.

“Yang paling penting adalah konsisten. Gerakan ini jangan hanya berhenti pada satu kegiatan, tetapi harus terus dilakukan,” ujarnya.

Hafidz menyebut keterlibatan sekitar 700 peserta menunjukkan bahwa kepedulian terhadap Sungai Musi telah mendapat dukungan dari berbagai kalangan.

Mahasiswa, pemuda, komunitas, relawan hingga masyarakat turut ambil bagian dalam membersihkan kawasan sungai.

Kegiatan tersebut juga melibatkan The Guardians of The River – ICCN Sumatera Selatan serta aktivis lingkungan asal Jerman, Benedict Wermter, yang dikenal dengan sebutan Bule Sampah.

Benedict bahkan ikut turun langsung mengumpulkan sampah di kawasan Sungai Musi.

Ia menilai persoalan sampah membutuhkan aksi nyata sekaligus kampanye yang mampu menjangkau masyarakat lebih luas.

“Menurut saya kita harus membuat aksi, bukan cuma membuat aksi, tetapi juga membuat video, membuatnya viral dan membangun kesadaran,” katanya.

Menurut Benedict, Sungai Musi memiliki posisi penting bagi Palembang. Karena itu, gerakan menjaga kebersihannya perlu terus diperkuat dengan melibatkan masyarakat.

Aksi bersih-bersih di kawasan 7 Ulu tersebut akhirnya menjadi momentum kolaborasi antara pemerintah, komunitas, relawan, mahasiswa dan masyarakat.

Lebih dari sekadar mengangkut sampah, gerakan itu diharapkan mampu mendorong perubahan kebiasaan masyarakat agar Sungai Musi tidak lagi dijadikan tempat pembuangan sampah.

Laporan : WAN