Musim Kemarau, Produksi Air Bersih Tirta Musi Palembang Tetap Stabil

Foto : Direktur Operasional Perumda Tirta Musi Palembang, Rahmad, ST,

PALEMBANG, TRIKPOS .com |  Musim kemarau mulai berdampak terhadap ketinggian permukaan Sungai Musi. Namun, kondisi tersebut belum mengganggu produksi air bersih Perumda Tirta Musi Palembang.

Direktur Operasional Perumda Tirta Musi Palembang, Rahmad, ST, mengatakan permukaan Sungai Musi saat ini mengalami penurunan sekitar 1 hingga 1,5 meter dari level intake. Meski demikian, kapasitas produksi air bersih masih terjaga pada kisaran 5.400–5.500 liter per detik perhari.

“Untuk produksi belum mengalami gangguan. Rata-rata produksi masih 5.400 sampai 5.500 liter per detik dan tidak mengalami perubahan sejak awal 2026,” kata Rahmad, saat diwawancarai wartawan trikpos.com, Kamis (20/8/2026).

Menurut dia, kondisi tersebut berbeda dibandingkan tahun sebelumnya. Salah satu faktor yang membuat produksi lebih aman adalah telah beroperasinya Instalasi Pengolahan Air (IPAL) Gandus dengan kapasitas sekitar 500 liter per detik.

Saat awal 2026, IPAL Gandus belum beroperasi sehingga produksi air di wilayah tertentu lebih bergantung pada IPAL Karang Anyar. Kondisi ini membuat penurunan permukaan Sungai Musi lebih berpengaruh terhadap proses pengambilan air baku.

“IPAL Karang Anyar tipe intake-nya berupa kanal. Air Sungai Musi masuk melalui kanal atau seperti parit kemudian ditampung dan dipompa. Sedangkan IPAL Gandus berbeda, aliran air bakunya langsung mengarah ke Sungai Musi,” jelasnya.

Rahmad memastikan posisi pompa saat ini masih aman meski permukaan Sungai Musi turun. Karena itu, belum ada rencana penambahan pompa untuk mengantisipasi penurunan muka air.

“Punggung pompa belum keluar dari permukaan air, sehingga kapasitas produksi masih aman. Kualitas air baku juga relatif normal,” ujarnya.

Kondisi air baku yang normal juga membuat penggunaan bahan kimia dalam proses pengolahan tidak mengalami perubahan. Menurut Rahmad, justru tantangan pengolahan air baku kerap muncul ketika musim penghujan.

Saat hujan, air dari kawasan rawa dapat masuk ke Sungai Musi dan membawa warna kecokelatan. Kondisi tersebut dinilai lebih sulit diolah dibandingkan air yang hanya mengalami kekeruhan.

“Kalau sekarang air bakunya keruh, lebih mudah diikat dengan tawas. Justru ketika musim hujan, air dari rawa membawa warna seperti air teh sehingga lebih sulit diurai,” katanya.

Untuk mengatasi kondisi tersebut, diperlukan proses pengolahan tambahan agar warna air dapat diikat dan diendapkan sebelum masuk ke tahap berikutnya.

Rahmad mengatakan, penurunan muka air Sungai Musi tahun ini relatif sama dengan tahun sebelumnya, yakni sekitar 1 hingga 1,5 meter. Namun, dampaknya tidak sebesar sebelumnya karena operasional IPAL Gandus telah membantu memperkuat pasokan air bersih.

Tahun lalu, penurunan muka air sempat memberikan pengaruh terhadap pelayanan di sejumlah wilayah, terutama Alang-Alang Lebar dan kawasan KM 4. Saat itu, sebagian kebutuhan wilayah Seberang Ilir masih sangat bergantung pada IPAL Karang Anyar yang produksinya sekitar 1.400–1.500 liter per detik.

Selain menjaga produksi, Perumda Tirta Musi juga menyiapkan fasilitas pengisian mobil tangki di sejumlah unit produksi. Fasilitas tersebut dapat digunakan untuk mendukung kebutuhan pelanggan maupun penanganan kondisi darurat, termasuk membantu pengisian kendaraan pemadam kebakaran saat terjadi kebakaran hutan dan lahan.

Rahmad menyebut kebutuhan bantuan air melalui mobil tangki di luar pelanggan masih dilakukan secara terbatas dan berdasarkan prioritas. Untuk wilayah yang belum terjangkau jaringan perpipaan, koordinasi dapat dilakukan dengan instansi terkait.

Di sisi lain, Perumda Tirta Musi mengingatkan pelanggan agar tetap menghemat penggunaan air selama musim kemarau. Kelancaran distribusi air juga bergantung pada pasokan listrik PLN.

“Kalau terjadi pemadaman listrik atau gangguan di lapangan seperti kebocoran pipa, kami mengimbau masyarakat tetap menghemat dan menyiapkan persediaan air penampungan jika sifatnya emergency,” kata Rahmad.

Saat ini, jumlah pelanggan Perumda Tirta Musi Palembang tercatat sekitar 379 ribu pelanggan.

“Dengan jumlah pelanggan yang besar, Perumda Tirta Musi memastikan pemantauan terhadap kondisi Sungai Musi dan instalasi produksi terus dilakukan untuk menjaga ketersediaan air bersih selama musim kemarau,” tandasnya.