SUMSEL  

Generasi Muda Diminta Tak Tinggalkan Permainan Rakyat, Festival Panjat Pinang 2026 Jadi Pengingat Tradisi

Foto : Sekda Sumsel Edward Candra membuka Festival Panjat Pinang Sumatera Ekspres 2026 di Venue Voli Pantai Jakabaring Sport City (JSC), Palembang, Minggu (30/8/2026).

PALEMBANG, TRIKPOS.com – Permainan rakyat dan tradisi lokal dinilai perlu terus dijaga agar tidak tergerus perkembangan zaman. Generasi muda Sumatera Selatan (Sumsel) pun didorong tidak sekadar menjadi penonton, tetapi ikut menghidupkan kembali berbagai permainan tradisional dengan kemasan yang lebih kreatif.

Pesan tersebut disampaikan Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Sumatera Selatan Edward Candra saat membuka Festival Panjat Pinang Sumatera Ekspres 2026 di Venue Voli Pantai, Jakabaring Sport City (JSC), Minggu (30/8/2026).

Menurut Edward, panjat pinang bukan sekadar perlombaan untuk memeriahkan perayaan kemerdekaan. Di balik permainan tersebut terdapat nilai kebersamaan dan gotong royong yang masih relevan dalam kehidupan masyarakat saat ini.

“Panjat pinang mengajarkan kepada kita bahwa untuk mencapai sebuah tujuan, tidak ada yang dapat dilakukan seorang diri. Ada yang menjadi pijakan, ada yang menopang, ada yang menjaga keseimbangan, dan ada yang berjuang mencapai puncak. Semua mempunyai peran,” ujar Edward.

Ia menilai filosofi tersebut menjadi gambaran sederhana bagaimana masyarakat Indonesia dapat mencapai tujuan melalui kerja sama. Setiap orang memiliki peran yang saling melengkapi.

Karena itu, Edward mengapresiasi Sumatera Ekspres yang tetap menghadirkan permainan rakyat dalam rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Ia berharap festival tersebut tidak berhenti sebagai kegiatan hiburan, tetapi menjadi ruang untuk mempererat silaturahmi sekaligus menjaga tradisi yang menjadi bagian dari kekayaan budaya masyarakat.

“Kegiatan ini tidak hanya menjadi hiburan masyarakat, tetapi juga menjadi ruang untuk mempererat silaturahmi, membangun kebersamaan, dan menghidupkan kembali permainan rakyat sebagai bagian dari kekayaan budaya kita,” katanya.

Edward secara khusus mengingatkan generasi muda agar tidak malu dengan permainan dan tradisi rakyat. Menurutnya, tradisi justru dapat dikembangkan menjadi kegiatan yang lebih menarik dan sesuai dengan perkembangan zaman.

“Kepada generasi muda Sumatera Selatan, jangan pernah malu dengan tradisi dan permainan rakyat kita. Justru kita harus bangga dan mampu mengemasnya menjadi kegiatan yang menarik, kreatif, dan relevan dengan perkembangan zaman,” tegasnya.

Ia menambahkan, nilai yang terkandung dalam panjat pinang juga dapat menjadi pembelajaran bagi generasi sekarang. Permainan tersebut mengajarkan keberanian menghadapi tantangan, kerja keras, kekompakan, serta sikap pantang menyerah.

“Panjat pinang boleh tradisional, tetapi semangatnya harus selalu modern: berani bermimpi, berani bekerja keras, dan tidak mudah menyerah,” ujarnya.

Kepada para peserta, Edward mengingatkan pentingnya menjaga keselamatan selama perlombaan. Sportivitas juga harus menjadi bagian utama dalam festival tersebut.

“Selamat bertanding. Jaga keselamatan, junjung tinggi sportivitas, dan yang paling penting, nikmati kebersamaan dalam festival ini,” pesannya.

Dengan semangat persatuan dan gotong royong, Edward kemudian secara resmi membuka Festival Panjat Pinang Sumatera Ekspres 2026.

Sementara itu, Manager Sumeks Iwan Irawan mengatakan Festival Panjat Pinang Sumeks 2026 digelar selama dua hari, yakni 29–30 Agustus 2026, sebagai bagian dari rangkaian menyemarakkan HUT ke-81 Kemerdekaan RI.

Panitia menyiapkan 45 batang pinang untuk festival tersebut. Jumlah itu disesuaikan dengan kondisi efisiensi saat ini.

Meski demikian, keterbatasan tersebut tidak mengurangi semangat panitia untuk menghadirkan hiburan bagi masyarakat.

Menariknya, lima batang pinang akan dipasang dalam posisi miring di atas air dan menghadap kawasan Venue Dayung JSC. Konsep tersebut menjadi salah satu variasi dalam festival tahun ini.

Selain itu, empat batang pinang dengan ketinggian sekitar 3–4 meter disiapkan khusus untuk peserta anak-anak dan ibu-ibu.

Festival juga tidak hanya menghadirkan panjat pinang. Sejumlah permainan tradisional turut digelar, di antaranya balap karung, lomba kelereng, gebuk bantal, dan berbagai perlombaan rakyat lainnya.

Rangkaian kegiatan tersebut menjadi upaya menghadirkan kembali suasana permainan rakyat sekaligus mempertemukan masyarakat dalam semangat kebersamaan dan perayaan kemerdekaan.

Laporan:  Wan