Lonjakan ISPA di Ogan Ilir Capai 2.200 Kasus, Anak-anak Paling Terdampak

Foto : ilustrasi

OGAN ILIR, TRIKPOS.com — Persoalan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan, mulai menunjukkan dampak terhadap kesehatan masyarakat. Dinas Kesehatan setempat mencatat sekitar 2.200 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) sepanjang Agustus 2026.

Lonjakan tersebut menjadi perhatian karena sebagian besar pasien ISPA merupakan anak-anak yang tinggal di wilayah dengan paparan asap karhutla cukup tinggi.

Kepala Dinas Kesehatan Ogan Ilir, Suryadi Muchzal, mengatakan jumlah penderita ISPA pada Agustus mengalami peningkatan dibandingkan bulan sebelumnya. Kondisi ini dinilai perlu diwaspadai karena asap dari kebakaran dapat memperburuk kualitas udara dan mengganggu sistem pernapasan.

“Terjadi kelonjakan pasien ISPA, terutama didominasi anak-anak. Rata-rata mereka berada di wilayah yang berdekatan langsung dengan kebakaran hutan dan lahan,” kata Suryadi.

Sejumlah wilayah tercatat memiliki kasus ISPA cukup tinggi, di antaranya Kecamatan Pemulutan, Pemulutan Barat, dan Indralaya Utara. Ketiga wilayah tersebut menjadi perhatian karena berada di kawasan yang terdampak persoalan karhutla.

Dinas Kesehatan Ogan Ilir kemudian meningkatkan kesiapsiagaan fasilitas pelayanan kesehatan. Sebanyak 25 puskesmas diminta memperkuat pemantauan dan pelayanan bagi masyarakat yang mengalami gangguan pernapasan.

Rumah sakit daerah juga diminta memastikan kesiapan tenaga medis serta pelayanan apabila terjadi peningkatan jumlah pasien yang membutuhkan penanganan lebih lanjut.

Menurut Suryadi, meningkatnya kasus ISPA menjadi sinyal bahwa dampak karhutla tidak hanya berkaitan dengan kerusakan lingkungan dan terganggunya aktivitas masyarakat. Paparan asap juga dapat menimbulkan persoalan kesehatan, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak.

Karena itu, penanganan persoalan kesehatan akibat asap tidak dapat dilakukan hanya dengan meningkatkan pelayanan medis. Upaya tersebut harus berjalan bersamaan dengan pencegahan dan penanggulangan karhutla.

“Ini perlu menjadi perhatian khusus. Penanganan ISPA tidak cukup hanya melalui pelayanan kesehatan, tetapi juga harus dibarengi dengan langkah serius menangani dan mencegah karhutla,” ujar Suryadi.

Dengan tercatatnya sekitar 2.200 kasus ISPA selama Agustus, pemerintah daerah diharapkan memperkuat langkah perlindungan masyarakat di kawasan terdampak asap. Selain memastikan layanan kesehatan tetap tersedia, pengendalian karhutla menjadi bagian penting untuk mencegah dampak kesehatan yang lebih luas.

Kondisi tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa kabut asap akibat karhutla berpotensi menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat apabila tidak segera ditangani, khususnya di wilayah Pemulutan, Pemulutan Barat, dan Indralaya Utara. (#)