PALEMBANG, TRIKPOS.com | SMAN 8 Palembang membuka ruang bagi siswa berkebutuhan khusus untuk mendapatkan layanan pendidikan bersama peserta didik lainnya. Namun, sekolah menegaskan layanan tersebut disesuaikan dengan kemampuan tenaga pendidik, fasilitas, dan tingkat kebutuhan siswa.
Kepala SMAN 8 Palembang Agus Sunaryo mengatakan, pendidikan inklusi menjadi bagian dari upaya sekolah meningkatkan kualitas pelayanan publik di bidang pendidikan.
Menurut dia, siswa dengan keterbatasan tertentu tetap dapat diterima sepanjang kondisinya masih memungkinkan untuk mengikuti pembelajaran reguler dan mendapatkan pendampingan dari sekolah.
“Pelayanan publik di SMAN 8 Palembang salah satunya adalah memberikan pelayanan kepada siswa yang memiliki kekurangan, misalnya kurang cepat memahami pembelajaran atau memiliki kekurangan dalam hal pendengaran pada tingkat tertentu,” ujar Agus saat ditemui, Kamis (10/9/2026).
Meski demikian, Agus menegaskan tidak semua kondisi kebutuhan khusus dapat ditangani SMAN 8 Palembang. Sekolah memiliki keterbatasan, terutama dalam menyediakan tenaga pendidik dengan kompetensi khusus.
Karena itu, siswa yang membutuhkan penanganan lebih spesifik akan diarahkan untuk mendapatkan pendidikan di sekolah khusus yang memiliki fasilitas serta tenaga pendidik sesuai kebutuhannya.
“Kalau kekurangannya terlalu besar, tentunya harus disekolahkan di sekolah khusus. Tetapi kalau kekurangannya masih dalam standar yang bisa beradaptasi dan dibina, masih bisa kita terima,” katanya.
Agus mencontohkan keterbatasan dalam menangani siswa dengan gangguan pendengaran berat. Kondisi tersebut membutuhkan pendampingan khusus, termasuk guru yang menguasai bahasa isyarat.
“Kalau pendengarannya sudah sampai sekitar 70 persen, kami belum bisa menerima karena kami belum menyediakan guru yang bisa bahasa isyarat,” ujarnya.
Di tengah keterbatasan tersebut, SMAN 8 Palembang berupaya memperkuat kapasitas tenaga pendidik agar pelayanan inklusi dapat berjalan lebih optimal.
Salah satu guru, Haryadi, telah mengikuti pelatihan pendidikan inklusi secara bertahap selama kurang lebih satu tahun. Pelatihan tersebut dimulai dari tingkat dasar hingga tingkat mahir dan telah dilengkapi sertifikat.
Agus menilai keberadaan tenaga pendidik yang memiliki kompetensi pendidikan inklusi menjadi modal penting bagi sekolah dalam memberikan pendekatan pembelajaran yang lebih sesuai bagi siswa dengan kebutuhan berbeda.
“Ini merupakan satu kekuatan kami untuk lebih optimal dalam pelayanan publik, khususnya untuk anak-anak yang memiliki kekurangan tetapi masih dalam standar yang dapat kami layani,” ungkapnya.
Menurut Agus, pendidikan inklusi tidak sebatas membuka akses bagi siswa berkebutuhan khusus untuk bersekolah. Lebih dari itu, sekolah harus mampu memberikan pendampingan, pembinaan, serta pendekatan pembelajaran berdasarkan kemampuan masing-masing peserta didik.
Karena itu, pihaknya terus melakukan pembenahan terhadap pelayanan pendidikan, sekaligus menyesuaikannya dengan kesiapan sumber daya manusia dan fasilitas yang tersedia.
Selain layanan pendidikan inklusi, Agus memastikan peningkatan pelayanan publik di SMAN 8 Palembang terus dilakukan pada berbagai aspek.
“Untuk pelayanan publik lainnya di SMAN 8 masih berjalan dan terus berbenah,” pungkasnya.
Laporan : Rini













