HUKUM  

Bicara Ilmu Harus Disertai Adab, Pahami Cara dan Tempat Sebelum Berbicara

Foto : Ketua Ikatan Lawyer UNSRI, A.Rilo Budiman, SH, MH menyampaikan pendapat dengan mengedepankan ilmu, etika, dan adab dalam berkomunikasi.

PALEMBANG, TRIKPOS.com | Pengetahuan dan kemampuan menyampaikan pendapat perlu diimbangi dengan etika serta adab. Sebab, ilmu yang disampaikan tanpa memperhatikan cara dan tempat dapat menimbulkan salah persepsi dan mengurangi nilai dari pesan yang sebenarnya ingin disampaikan.

Pesan tersebut menjadi pengingat agar setiap orang tidak hanya memahami apa yang hendak dibicarakan, tetapi juga memahami bagaimana cara menyampaikannya, kepada siapa, dan di mana tempat yang tepat untuk menyampaikannya.

“Sebelum bicara lebih jauh tentang sesuatu hal, minimal tahu cara dan tahu tempat. Minimal itu dulu,”kata ketua Ikatan Lawyer UNSRI, A. Rilo  Budiman, SH, MH, CPCM, Selasa (15/9/2026).

Pesan itu juga menekankan bahwa kebenaran sekalipun tetap membutuhkan cara penyampaian yang tepat. Niat yang baik akan lebih mudah diterima apabila disampaikan dengan bahasa, sikap, dan situasi yang tepat.

Dalam kehidupan sosial maupun profesional, perbedaan pandangan merupakan hal yang wajar. Namun, perbedaan tersebut seharusnya tidak menghilangkan rasa saling menghormati.

Ada batas yang perlu dipahami antara kritik dan penghinaan, antara menyampaikan pendapat dan menghakimi, serta antara berbicara berdasarkan ilmu dengan berbicara tanpa memahami persoalan secara utuh.

“Kalau ingin dimengerti, belajarlah mengerti. Kalau ingin didengar, belajarlah mendengar. Bicara ilmu harus tahu cara, bicara adab jangan dibolak-balik.”ujarnya.

Pesan tersebut juga mengingatkan bahwa ilmu dan adab semestinya berjalan beriringan. Ilmu memberikan seseorang dasar untuk berbicara, sedangkan adab mengajarkan bagaimana, kapan, dan di mana seseorang seharusnya berbicara.

Dengan demikian, kemampuan seseorang tidak semata-mata diukur dari seberapa banyak ilmu yang dimilikinya, tetapi juga dari bagaimana ia menggunakan ilmu tersebut secara bijaksana.

Ilmu menunjukkan apa yang kita ketahui, sementara adab menunjukkan bagaimana kita menghargai apa yang kita ketahui.

Kritik tetap diperlukan. Perbedaan pendapat juga merupakan bagian dari proses mencari kebenaran. Namun, semuanya akan jauh lebih bermartabat apabila disampaikan dengan argumentasi yang kuat, bahasa yang santun, serta tetap menghormati pihak lain.

Pada akhirnya, orang berilmu belum tentu beradab. Tetapi orang yang memiliki ilmu sekaligus adab akan memahami kapan harus berbicara, bagaimana menyampaikan pendapat, dan kapan harus memilih untuk menahan diri.

Sebab, kualitas seseorang bukan hanya terlihat dari seberapa hebat ia berbicara, tetapi juga dari seberapa bijak ia menempatkan setiap perkataannya.

Laporan : redaksi