OKI  

Menhut dan BNPB Tinjau Karhutla di OKI, Sinergi Penanganan Diperkuat

KAYUAGUNG, TRIKPOS.com – Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni bersama Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto meninjau kesiapan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan, Senin (31/8/2026).

Peninjauan berlangsung di Kantor Manggala Agni Daops Sumatera XVII/OKI, Kayuagung. Kegiatan tersebut turut dihadiri Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru dan Bupati OKI Muchendi Mahzareki.

Pertemuan membahas kondisi wilayah rawan karhutla, kesiapan personel dan sarana prasarana, serta strategi mempercepat penanganan kebakaran di lapangan.

Raja Juli mengatakan penurunan jumlah titik panas atau hotspot di sejumlah wilayah menjadi perkembangan positif. Namun, kondisi tersebut tidak boleh membuat kewaspadaan terhadap karhutla menurun, terutama di kawasan lahan gambut.

“Kunci pengendalian karhutla adalah pencegahan dan deteksi dini. Kita harus memastikan seluruh unsur bergerak cepat sebelum api membesar, terutama di kawasan gambut yang memiliki tingkat kerawanan tinggi,” ujar Raja Juli.

Menurutnya, kebakaran di lahan gambut memiliki karakteristik khusus karena api dapat tetap membara di bawah permukaan meski tidak terlihat. Karena itu, proses pendinginan dan pembasahan harus dilakukan secara intensif dan berulang.

“Hotspot ini bukan berarti tidak ada asap. Karena sifatnya gambut, meski tidak ada api, masih ada asapnya,” katanya.

Sementara itu, Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto mengatakan setiap hotspot yang terdeteksi satelit perlu melalui proses verifikasi sebelum dikategorikan sebagai kebakaran.

Verifikasi dilakukan dengan menggunakan berbagai sarana, termasuk helikopter dan drone.

Di Sumatera Selatan, dari 37 hotspot berkekuatan tinggi yang terpantau, hasil verifikasi menunjukkan 11 titik merupakan fire spot. Pemerintah menargetkan seluruh titik tersebut segera dikendalikan.

Selain upaya pemadaman, pemerintah juga menyiapkan operasi modifikasi cuaca (OMC) dengan memanfaatkan potensi hujan berdasarkan informasi BMKG pada 1-6 September 2026.

“Di bulan September ini kita masih akan berjibaku untuk memadamkan,” ujar Suharyanto.

Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru menegaskan pengendalian karhutla membutuhkan sinergi lintas wilayah dan sektor.

“Sumatera Selatan tidak bisa menangani karhutla sendiri-sendiri. Kita harus bergerak dalam satu komando dan memperkuat sinergi antara pemerintah pusat, provinsi, kabupaten, TNI, Polri, Manggala Agni dan masyarakat,” katanya.

Bupati OKI Muchendi Mahzareki mengatakan luas wilayah dan karakter lahan OKI yang sebagian besar berupa rawa dan gambut membutuhkan dukungan serta kolaborasi seluruh pihak, termasuk dunia usaha.

“OKI memiliki wilayah yang sangat luas dan karakter lahan yang sebagian besar berupa rawa dan gambut. Karena itu, kami membutuhkan penguatan kolaborasi, personel, sarana prasarana dan deteksi dini,” ujar Muchendi.

Menurut Muchendi, dukungan perusahaan menjadi bagian penting dalam memperkuat kesiapsiagaan pengendalian karhutla di OKI. Sejumlah perusahaan telah membentuk dan menyiagakan personel serta regu inti untuk mendukung penanganan di lapangan.

“Perusahaan juga kami dorong untuk mengambil peran. Saat ini telah dibentuk 176 personel KTPA dan 1.470 regu inti perusahaan yang siap mendukung upaya pengendalian kebakaran hutan dan lahan,” katanya.

Ia menambahkan, penanganan karhutla tidak hanya bergantung pada pemadaman, tetapi juga mencakup pencegahan, deteksi dini, kecepatan informasi serta mobilisasi personel.

Pemkab OKI memastikan koordinasi bersama TNI, Polri, Manggala Agni, pemerintah desa, masyarakat dan dunia usaha terus diperkuat untuk mempercepat respons terhadap titik api serta mencegah kebakaran meluas.

Laporan : Andi Burlian