PALEMBANG, TRIKPOS.com— Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan mulai mematangkan langkah untuk membuka ruang yang lebih luas bagi anak-anak berkebutuhan khusus dalam menunjukkan potensi mereka. Melalui Dinas Pendidikan, ajang kompetisi olahraga dan seni tengah disiapkan sebagai wadah inklusif, bukan sekadar perlombaan.
Kepala Bidang Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus (PKLK) Dinas Pendidikan Sumsel, Utui Tatang Suntani, mengatakan kegiatan tersebut akan berada di bawah naungan Special Olympics Indonesia (SOIna), organisasi yang selama ini fokus pada pembinaan olahraga bagi penyandang disabilitas intelektual.
Menurut Tatang, rencana itu akan diwujudkan melalui Kejuaraan Daerah (Kejurda) yang melibatkan seluruh Sekolah Luar Biasa (SLB) di Sumatera Selatan. Sebanyak 41 SLB, baik negeri maupun swasta, dijadwalkan berpartisipasi dengan mengirimkan atlet terbaiknya.
“Ajang ini bukan hanya soal kompetisi, tetapi memberi ruang setara bagi anak-anak berkebutuhan khusus untuk tampil dan menunjukkan kemampuan mereka,” ujar Tatang.
Sejumlah cabang olahraga akan dipertandingkan, seperti lari, lompat jauh, dan bulutangkis. Selain itu, peserta juga diberi ruang mengekspresikan diri melalui seni, mulai dari tari hingga pembacaan puisi.
Menurut Tatang, pendekatan ini penting karena kegiatan serupa masih terbatas, sementara kebutuhan anak-anak untuk berinteraksi dan mengembangkan bakat cukup besar.
“Selama ini ruang mereka terbatas. Kegiatan ini diharapkan menjadi wadah untuk bertemu, berinteraksi, dan tumbuh dalam suasana yang positif,” katanya.
Pada tahap awal, sekitar 100 peserta telah mendaftar, mewakili empat cabang olahraga dan seni. Jumlah tersebut diperkirakan terus bertambah seiring meningkatnya antusiasme sekolah dan orang tua.
Ia menambahkan, Kejurda ini juga menjadi bagian dari upaya membangun kepercayaan diri peserta. Dengan dukungan yang tepat, anak-anak berkebutuhan khusus dinilai mampu mencatatkan prestasi yang membanggakan.
“Potensi mereka besar. Tugas kita membuka akses dan memastikan mereka mendapatkan kesempatan yang sama,” ujarnya.
Ke depan, kegiatan ini diharapkan tidak berhenti sebagai agenda seremonial, melainkan menjadi program berkelanjutan yang digelar secara rutin setiap tahun.
“Kami ingin ini menjadi awal dari penguatan ekosistem pendidikan inklusif di Sumatera Selatan,” kata Tatang.
Melalui Kejurda tersebut, pemerintah daerah berharap dapat menegaskan bahwa setiap anak memiliki hak yang sama untuk berkembang, berprestasi, dan mendapatkan apresiasi di ruang publik. (#)















