HUKUM  

Jelang May Day, Polda Sumsel Buka Ruang Dialog dengan Genk Remaja

Foto : AKP Suandi bersama Bhabinkamtibmas Kelurahan Talang Buluh Aiptu Hasyim saat berdialog dengan genk remaja di Palembang dalam upaya mencegah tawuran dan keterlibatan pelajar dalam aksi anarkis menjelang May Day 2026.

PALEMBANG, TRIKPOS.com — Menjelang peringatan Hari Buruh Internasional (May Day), Polda Sumatera Selatan membuka ruang dialog bersama genk remaja sebagai langkah preventif menjaga stabilitas keamanan dan mendukung terciptanya Palembang zero konflik.

Langkah ini juga bertujuan meminimalisir potensi eksploitasi anak, khususnya keterlibatan pelajar dan remaja dalam aksi unjuk rasa yang berpotensi anarkis maupun kerusuhan.

Dalam forum tersebut, Polda Sumsel membahas berbagai dinamika sosial, mulai dari masih maraknya aksi tawuran antar remaja hingga fakta keterlibatan anak-anak dalam sejumlah aksi demonstrasi yang berujung ricuh di Kota Palembang.

Polda Sumsel menilai, pencegahan terhadap tawuran dan potensi anarkisme tidak cukup hanya dilakukan melalui penindakan hukum, tetapi harus dibarengi pendekatan yang lebih komprehensif melalui edukasi dan komunikasi langsung.

AKP Suandi, didampingi Bhabinkamtibmas Kelurahan Talang Buluh Aiptu Hasyim, mengatakan ruang dialog seperti ini penting karena selama ini interaksi langsung dengan remaja masih sangat minim.

“Kita jarang membangun komunikasi langsung dengan anak-anak dan remaja, sehingga mereka kurang memahami dampak negatif serta risiko hukum dari pelanggaran maupun tindak pidana,” ujarnya.

Menurutnya, di era digital saat ini, remaja lebih banyak berinteraksi melalui gawai dan media sosial, sehingga lebih rentan terpengaruh oleh informasi yang bias, propaganda, maupun opini publik yang tidak objektif.

Ia mencontohkan peristiwa kerusuhan yang sempat terjadi di sekitar Kantor DPRD Sumsel pada Agustus 2025, di mana pelaku kerusuhan didominasi anak-anak dan remaja yang ikut hanya karena fenomena fear of missing out (FOMO), provokasi media sosial, dan ajakan teman.

Bahkan, pada aksi demonstrasi mahasiswa keesokan harinya, masih ditemukan pelajar yang berupaya menyusup ke barisan massa aksi. Beberapa di antaranya diketahui membawa senjata tajam.

Kondisi ini menjadi perhatian serius aparat terhadap kemungkinan adanya mobilisasi terencana oleh pihak tertentu yang sengaja memanfaatkan anak-anak sebagai tameng dalam aksi unjuk rasa.

Melalui dialog ini, Polda Sumsel berharap pemahaman bersama tentang bahaya manipulasi dan eksploitasi anak semakin meningkat, sejalan dengan amanat Undang-Undang Perlindungan Anak.

“May Day adalah momentum menyuarakan keadilan dan kesejahteraan buruh. Jangan sampai tujuan itu tercemar oleh pihak-pihak yang sengaja menggiring aksi ke arah kerusuhan dengan melibatkan anak-anak,” tegasnya.

Polda Sumsel menegaskan bahwa menjaga keamanan dan ketertiban bukan hanya tugas aparat, tetapi tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat, termasuk keluarga, sekolah, dan lingkungan sosial remaja. (#)